Oleh: junior87 | Juli 5, 2010

Tuhan Dekat Dengan Aku

src=”http://ebusjunior.files.wordpress.com/2010/07/sube-croplbng.jpg?w=107″ alt=”" title=”sube croplbng” width=”107″ height=”150″ class=”alignnone size-thumbnail wp-image-169″ />
Sepak bola mungkin sudah menjadi bagian dari hidupku, Mungkin ada suatu penyesalan karena keluargaku mengenalkan aku dengan olahraga yang paling di gemari di Indonesia bahkan di dunia. Karena tak jarang aku harus meninggalkan suatu kewajibanku menjadi seorang muslim yang harus menjalankan ibadah sholat. Karena dengan menonton sepak bola aku harus sudah ada di stadion sebelum sholat ashar dan ber jam-jam didalam stadion setelah itu sesampai di rumah sehabis sholat magrib.

Tapi itu semua tidak bisa saya pungkiri, tapi aku harus bisa menjalankan kedua-duanya karena disamping aku mencintai sepak bola aku harus mengutamakan kecintaanku kepada ALLAH sebagai muslim.

Memang aku bukan terlahir dari keluarga yang benar-benar taat pada agama, keluargaku memberi kebebasan kepada aku untuk beraktivitas bahkan merekapun selalu mendukung tetapi dalam hal yang positif, tapi keluargaku tak jarang untuk mengingatkan aku dan selalu mengharuskan aku untuk mendahulukan beribadah terutama sholat.

Tapi aku menyiasati itu semua dengan melaksanakan kedua-duanya, ketika sudah distadion aku sempatkan untuk mencari tempat untuk mengerjakan ibadah sholat, mungkin hanya ALLAH yang akan menilai semua ibadah yang aku kerjakan, entah itu bisa diterimanya atau tidak.

Bermain sepak bola sendiripun aku harus berangkat sesudah sholat ashar dan kembali sebelum magrib, ketika keenakan main dan waktu sudah dekat magrib kakakku pun menghampiri aku dengan membawa sebuah kayu yang dibawahnya dari rumah, mungkin ada rasa malu terhadap teman-temanku bermain bola. Tapi aku sangat beruntung masih punya keluarga yang selalu mengingatkan aku untuk urusan dengan tuhan.

Selepas sekolah aku ingin mencicipi kehidupan Jakarta, disanalah aku mendapatkan cita-citaku menjadi pesepak bola professional, meskipun tingkatnya hanya TARKAM (Antar Kampung). Diawali bermain dengan anak kampung, ada seorang pelatih SSB RAGUNAN yang mengajak aku untuk bergabung, di sana ada kompetisa reguler antar SSB se DKI.

Aku pun mulai mengikuti latihan bahkan aku bisa ikut didalam kompetisi itu. Di Kampung Kebagusan Jakarta waktu itu mengadakan kompetisi, seingatku dekat dengan kediaman Ibu Megawati. Aku pun tidak mau kebiasaanku yang dulu meninggalkan ibadah akan terulang lagi, karena pertandingan digelar setelah ashar, aku pun harus meminta ijin dulu sebelum bertanding karena waktu itu aku masih menjadi cadangan, yang biasanya dimainkan di babak kedua.

Mungkin club ku waktu itu tidak masuk nominasi juara, tapi pada kenyataanya club ku jadi finalis turnamen itu, Peran serta ku sebagai pemain pengganti pun sangat berpengaruh dalam kemenangan hingga menjadi finalis. Aku sedikit tidak percaya dengan club ku bahkan dengan penampilanku hingga aku menjadi pemain inti, aku pun berkata dalam hati inikah doa yang selama ini aku minta dalam shalatku “ALLAH itu dekat dengan ku”.

Berbagai cara dilakukan oleh club ku untuk menjadi yang terbaik dalam turnamen itu, mereka rela mengajak para pemain kepada kepada orang yang tak jelas aku ketahui siapa orang itu. Semua pemain disuruh mandi air kembang, tapi aku tidak mengikuti apa yang disuruh oleh pelatihku kepada semua pemainnya. Karena selama ini aku tidak pernah mengenal ritual itu semua dan saya menganggap itu syirik tak tahu juga apa yang dirasakan teman-temanku.

Keesokan hari ketika final dimulai aku harus mempersiapkan lebih awal karena aku sudah menjadi pemain inti, Tapi seperti kebiasaanku sebelumnya aku harus menunaikan ibadah shalat sebelum bertanding. Aku bersama temanku meminta ijin shalat bahkan pelatihpun rela mencari gantiku untuk menjadi pemain inti.

Entah apa yang menjadi perasaanku harus kagum dengan keinndahan sebuah kuba masjid yang biasa aku pakai shalat itu, aku memandanginya seakan keindahan islam di dalamnya aku pun sempat mengatakan kepada temanku “kuba masjid ini sangat indah yo,,,” dengan sedikit logat jawaku.

Ketika selesai aku pun bergegas ke lapangan dan segera dimainkan oleh pelatihku. Aku melihat betapa luar biasanya penonton saat final itu berlangsung, baru dalam hitungan menit aku sudah menerima umpan lambung dari temanku, aku melompat dan sialnya badanku terlalu kecil untuk bertubrukan dengan pemain belakang lawanku yang badannya lebih kekar. Akupun terpelanting ketanah dengan benturan keras kepalaku yang membentur ke tanah hingga aku tak sadarkan diri.

Seketika gemuruh sorak sorai penonton hilang dari pendengaranku yang ada hanyalah bacaan alquran dari masyaallah, allah, astaqfirullah bahkan sampai terdengar kata-kata innalillahi wainnailaihi raajiun. Mataku tidak bisa melihat tapi telingaku bisa mendengar jelas suara bacaan alquran itu.

Tapi aku bisa merasakan kedekatan tuhanku, terliha jelas kuba yang bertuliskan ALLAH yang baru aku lihat dimasjid itu, dan ucapku dalam hati “Ya ALLAH, untung aku tadi sudah shalat”, dengan tak sadarkan diri aku dibawah ke rumah sakit terdekat mungkin ALLAH juga mengikuti dan mengantarkan aku serta menunggui aku hingga aku siuman setelah 4 jam aku tak sadarkan diri sampai selesai operasi.

Ini akan menjadi pengalamanku yang sangat luar biasa dan akan mengingatkanku untuk dekat dengannya, karena aku yakin “tuhan dekat dengan aku”. Zubeir_jr


Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.