Oleh: junior87 | Juni 10, 2010

Yang Tersisa dari Piala Dunia

Tidak terasa dalam hitungan hari, empat tahun lamanya para pecinta bola akan disuguhkan oleh meriahnya gelaran akbar sepak bola piala dunia yang digelar di afrika selatan. Tak terasa juga jamaah itu berjalan hingga gelaran akbar sepak bola yang akan dimainkan.

Pada awalnya sebuah kampung yang bermayoritas hampir 99 persen menganut agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW ini mempunyai kegiatan rutinitas membacakan surat yasin dan tahlil atau yang biasa disebut tahlillan dari rumah musala dan masjid yang secara bergiliran menjadi pemandangan yang sangat luar biasa karena terlihat betapa kerukunan dan kekeluargaan yang tejalin di dalam kehidupan bermasyarakat.

Tapi karena perubahan jaman dan kurangnya antusias dari generasi penerus kegiatan itu hilang secara berlahan bahkan bertahun tahun tidak berjalan dari rumah ke rumah, mungkin kegiatan hanya ada di pusat masjid yang terbesar di kampung itu dan itupun hanya para bapak ataupun mbah-mbah para remaja di kampung itu.

Bermula dari obrolan ringan dari lima pemuda asli kampung itu, mereka bukan dari seseorang ahli ibadah yang taat. Bahkan mereka berlima pernah berbuat yang seharusnya dijauhi dan dilarang oleh agama, dan dari kelima pemuda itu berlainan macem perilaku buruknya seperti mencuri, main perempuan, berjudi, madat, atau orang jawa yang lebih mengenal dengan sebutan “MOLIMO” bahkan tak jarang badan mereka dihiasi dengan seni tato. tetapi seburuk apapun mereka menganggap itu masa lalu, mereka merasa bersalah dan akan merubahnya.

Kelima pemuda itu ingin mewujudkan kembalinya suasana yang pernah mereka lihat dari bapak-bapaknya dahulu, ingin berdirinya sebuah “jamaah tahlil” di kampung itu. Dengan adanya tontonan sepakbola yang dalam suasana ketegangan dengan sedikit sruputan kopi yang sudah tidak begitu panas karena cuaca malam kota malang yang terkenal dingin muncullah kesanggupan dari kelima pemuda untuk menjadi pelopor.

Timbullah pertanyaan dari salah satu pemuda itu, “bagaimana dan siapa yang menjadi imam dalam kegiatan ini”. Mereka menyadari karena dari kelima pemuda itu tidak mempunyai dasar agama yang baik, akhirnya merekapun mengajak seorang yang sebayanya dan dianggap mempunyai pengetahuan agama yang lebih baik dengan mengajak serta beberapa saudaranya.

Dimulailah sebuah kegiatan agama yang melantunkan ayat ayat alquran yang ditujukan kepada nabi yang membawa agama islam di bumi ini dan tak luput mereka menitipkan untuk para leluhur bahkan saudara dan keluarga mereka yang lebih dulu dipanggil oleh sang khaliq ALLAH SWT.

Dari sembilan orang yang mengawalinya ada cucuran airmata menetes dari beberapa pemuda itu, karena apa yang mereka inginkan dapat terlaksana bahkan mereka memimpikan kegiatan itu bisa berkembang dan besar apa yang mereka harapkan di kampung itu. Mungkin mereka dibuang dan dianggap hina dari orang yang menganggap dirinya lebih baik bahkan lebih suci dari yang lain, tetapi niat pemuda ini sangat mulia dan tulus. Mudah-mudahan niat tulus mereka diridhoi oleh yang maha kuasa, karena siapa yang peduli dengan mereka? Masih adakah orang-orang yang bisa menuntun mereka?.

Sedikit berat mereka meninggalkan kebiasaan buruknya serta mereka menanggalkan semua perilaku buruknya dengan selalu berbuat baik dan dengan tekad yang tulus kegiatan itu berjalan, berkembang menjadi lebih besar. Jamaah itupun berjalan sampai akan digelarnya piala dunia bulan juni 2010 ini, mudah-mudahan jamaah ini menjadi berkah dan bisa terwujud sampai keturunan mereka.


Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.