Oleh: junior87 | April 21, 2010

MESSI ATAU MILITO ???


MILAN–Inter Milan memiliki modal berharga setelah berhasil mengalahkan juara bertahan Barcelona di leg pertama semifinal Liga Champions di Stadion Giuseppe Meazza, Selasa (20/4) malam waktu setempat. Padahal, Barca tampil menyerang sejak awal pertandingan. Sementara tim tuan rumah lebih banyak bertahan dan menunggu celah untuk melakukan serangan balik.

Taktik yang dirancang Jose Mourinho, arsitek Inter, sempat dipertanyakan saat tim tamu berhasil unggul lebih dulu melalui Pedro di menit ke-19. Setelah gol itu terjadi, Inter mulai meningkatkan tempo permainan dan beberapa kali membuat peluang.

Namun beberapa peluang yang diperoleh Diego Milito dan Samuel Eto’o belum mampu membuahkan gol. Inter kemudian berhasil menyamakan skor lewat tendangan Sneijder di menit ke-29. Pemain asal Belanda itu berada dalam posisi cukup bebas karena Barca terlalu berkonsentrasi mengawal Milito dan Eto’o.

Di awal babak kedua, Inter mencoba tampil agresif. Hasilnya, mereka mencetak gol di menit ke-48. Pergerakan cepat Milito dari sisi kanan kembali menarik beberapa pemain Barca, kemudian pemain asal Argentina itu memberi umpan pendek pada Maicon yang menceploskan bola ke gawang Victor Valdes.

Gol itu membuat pemain Inter makin bersemangat. Barca yang terlalu fokus pada penyerangan, harus membayar mahal dengan gol ketiga yang dicetak ‘Le Beneamata’. Berawal dari sebuah serangan balik, Milito melengkapi kemenangan timnya dengan membuat gol melalui sundulan di menit ke-61.

Barca berusaha membalas dan kembali tampil menyerang. Meskipun lebih menguasai pertandingan, namun mereka gagal menambah gol. Kiper Julio Cesar tampil gemilang dengan menahan tendangan Messi, Pedro, dan Pique.

Pertandingan berlangsung cukup keras dan wasit harus mengeluarkan lima kartu kuning untuk pemain Barca dan dua untuk Inter. Taktik Mourinho untuk ‘merusak’ permainan indah Barca membuahkan hasil. Sampai pertandingan berakhir, skor tetap 3-1 untuk kemenangan Inter.

Tapi tahukah anda siapa yang menjadi Superstar padapertandingan itu??? Mungkin pemain ini tidak sehebat pemain terbaik eropa MESSI, tapi kontribusinya terhadap pertandingan itu sangat diacungi jempol. Argentina adalah asal negara kelahirannya dengan 2 assistnya dan 1 gol pemain itu membuat pengamatan saya menjadi bintang pada pertandingan itu, tapi anda boleh menilai lain.

Oleh: junior87 | Oktober 22, 2010

SIAPAKAH AREMANIA ITU ? ? ?

Aremania, nama itu sudah tidak asing lagi bagi telinga para penggila sepak bola yang ada di tanah air tercinta INDONESIA ini. Tak lepas dari nama seporter besar di Indonesia seperti Jack mania, Pasoepati, Viking, bonekmania dan masih banyak yang tidak saya sebutkan, Aremania lahir, tumbuh dan berkembang besar yang hanya dari sebuah kota kecil di wilayah Jawa Timur. Bahkan kalo kita sedikit mengingat, Aremania pernah menjadi suri tauladan bagi seporter bola di Indonesia mereka kreatif, atraktif dan sportif.

Mereka juga aktif dan reaktif dalam memenuhi undangan Arema yang akan berlaga di kandang maupun tandang, karena mereka hanya sedikit dari golongan ekonomi menengah keatas, sebagian besar mereka dari kalangan ekonomi menengah kebawah. Dengan merogoh koceknya sendiri yang insyaallah halal dari menyisihkan gaji bulanannya, uang saku, hasil jualan, ngamen, bahkan ada yang rela menggadaikan dan tak jarang menjual barang berharga yang mereka punya dirumah seperti barang elektronik, perabot rumah atau sekedar asesoris miliknya (bondo duwek).

Tapi Siapa Sebenarnya Arema Itu ???
AREMA adalah team sepak bola kebanggaan di kota malang, tp warga malang raya ataupun kabupaten bangga menyebut dirinya AREMA “AREk MAlang“,
1. Emakku pun orang malang, meskipun tidak pernah langsung menonton langsung pertandingan di stadion seperti halnya kebanyakan kaum hawa. Tapi beliau sangat peduli terhadap “ayas” sebagai anaknya yang cinta kepada Arema dengan sekedar memberi ijin, doa dan tak jarang memberikan sedikit bekal dan ongkos untuk menyaksikan Arema berlaga.
Tapi seiring kemajuan teknologi tak segan-segan beliau meninggalkan aktivitas rutinnya baik agama maupun rutinitas kumpulannya karena beliau menyaksikan pertandingan melalui siaran langsung di televisi.

2. Arek Malang Asli yang kelahiran malang raya atau kabupaten, mereka mengikuti perkembangan sepakbola Arema melalui media surat kabar ataupun media elektronik dalam siaran langsung nya dan sekarang lebih dimanjakan lewat dunia maya yang lebih akrab kita kenal dengan sebutan internet.

3. Ataukah mereka saja Arek Malang yang suka Arema dan selalu hadir mendukung tiap kali team AREMA bertanding di stadion yang disebut AREMANIA???. Bagaimana untuk Arek Malang yang mencari ilmu dan mencari nafkah diluar kota Malang??? padahal mereka sangat antusias dan selalu mengikuti perkembangan Arema.

4. Kalo untuk Arek Malang itu sudah biasa, Tp bagaimana untuk Seseorang diluar kota Malang yang hanya keturunan dan bahkan tidak ada darah keturunan orang Malang ??? tp mereka sangat mencintai dan mendukung team AREMA.
Mungkin atribut bisa mereka beli ataupun di bikin sendiri tp lain halnya dengan yang saya temui, meskipun tidak banyak jumlahnya tp saya melihat sendiri bahkan merasakan kecintaan mereka tumbuh dari hatinya bukan dari ajakan dan paksaan, meskipun mereka dari dari luar kota Malang mereka pun menyebut dirinya sebagai AREMANIA. Bahkan ada pula dari mereka yang mengabadikan menjadi seni tubuh “TATO” dengan berlogo raja hutan “singo“, entah apa motivasi mereka tapi yang jelas singa memang garang tapi jangan lupa “singo edan” adalah lambang kebanggaan Aremania.

Bangga, bangga dan bangga, itulah itulah rasa yang dimiliki para Aremania ketika mereka menggunakan atribut kebanggaan team kesayangannya, dengan rasa hormat mereka menghargai apa yang tertancap pada atribut itu. Selain Agama dan orang tua mungkin mereka bisa mengagungkannya dan bisa juga mereka mengabaikan saudara, teman bahkan kekasihnya tapi tanpa mengurangi rasa tali persaudaraan mereka.

Dari poin diatas, SIAPAKAH AREMANIA ITU ? ? ?
- PANTASKAH MEREKA DISEBUT AREMANIA ? ? ?
- SUDAH PANTASKAH KAMU DISEBUT AREMANIA ? ? ?
- ATAU PANTASKAH KITA MENYEBUT DIRI KITA AREMANIA ? ? ?

Mungkin Emakku tidak pernah menyebut dirinya sebagai Aremania, tapi bagiku beliau pantas ayas sebut A R E M A N I A.
Wassalam, Salam 1 Jiwa

Oleh: junior87 | Oktober 22, 2010

Hakeem Olajuwon: Mengagumi Keindahan Alquran

Di era 1990 hingga awal 2000-an, nama Hakeem Olajuwon begitu memukau publik Amerika Serikat (AS), khususnya bagi penggemar basket NBA. Pasalnya, sosok dengan tinggi badan 213 sentimeter itu berhasil menampilkan permainan indah dan menawan. Tak heran, bila namanya selalu disejajarkan dengan pebasket andal NBA lainnya, seperti Abdul Kareem Jabbar dan Michael Jordan.

Bahkan, klub Houston Rockets yang dibelanya sejak tahun 1984, berhasil dibawanya untuk meraih gelar juara di tahun 1994 dan 1995. Dan, Olajuwon sendiri dinobatkan sebagai pemain terbaik NBA di tahun 1994. Pada musim kompetisi berikutnya, ia pun selalu menjadi langganan untuk masuk di tim NBA All Stars.

Karena kebolehannya dalam menunjukkan aksi yang memukau, Olajuwon termasuk salah satu dari lima pemain tengah legendaris NBA, bersama dengan Bill Russell, Wilt Chamberlain, Kareem Abdul-Jabbar, dan Shaquille O’Neal. Selama bermain di ajang NBA (1984-2002), ia tercatat pernah memperkuat dua klub berbeda, yaitu Houston Rockets dan Toronto Raptors. Pada tahun 2003, Olajuwon menyatakan pensiun dari dunia yang telah membesarkan namanya itu.

Muslim

Kini, setelah pensiun, Olajuwon lebih banyak menghabiskan waktunya untuk kegiatan dakwah dan mendalami Islam. Alasannya untuk mendalami Islam itu setelah terjadi satu peristiwa di tahun 2000 yang membekas hingga saat ini.

Suatu malam tahun 2000, ia mendengarkan sebuah bacaan ayat Alquran dari kaset. Semakin lama ia makin tertarik dengan bacaan tersebut. Ia kemudian mencari tahu dan mencoba mempelajarinya. Dan, pada suatu hari, di sebuah kamar hotel di Miami, Olajuwon dengan khusyuk membaca ayat-ayat Alquran. “Sebenarnya saya malu, sebab suara saya terdengar sumbang dan tinggi,” katanya seperti dikutip dari situs beliefnet.com.

“Tapi, tak mengapa. Ketika mulut Anda sudah melafalkannya, Anda akan merasakan betapa indahnya kandungan bahasa Alquran,” kata Olajuwon lagi. Dengan Kitab suci tersebut, Olajuwon merasakan sedang berkomunikasi dengan Allah. Itulah yang membuatnya makin dekat dengan Tuhan Yang Maha Pencipta. Bahkan, sejak saat itu, ia pun menambahkan sebuah huruf di depan namanya. Yakni, dari Akeem, menjadi Hakeem. Sebuah nama yang diambil dari salah satu Asmaul Husna, yang berarti seorang penegak hukum.

Sejak menyatakan diri mendalami Islam, Olajuwon benar-benar menjalankannya dengan penuh perhatian. Karenanya, orang mengenal Olajuwon sebagai pribadi Muslim yang taat. Bahkan, ia selalu membawa kompas yang bisa menunjukkan arah kiblat di arena basket saat ia akan bertanding atau sedang latihan; ia tak pernah lupa memasang alarm pengingat waktu shalat setiap harinya; ia membaca Alquran di pesawat; dan ia mengunjungi masjid di setiap kota yang disinggahinya kala bertanding, terutama untuk shalat Jumat.

Hebatnya lagi, gaji yang didapatkan dari hasil keringat selama bermain basket, ia mendermakan pendapatannya itu sekitar 20 persen untuk kaum miskin. “Tuhan datang pada kita, dan surga tidaklah murah,” ujarnya.

Pada bulan Ramadhan, Olajuwon tak pernah batal berpuasa, bahkan ketika ia bertanding untuk klubnya, kecuali ia sakit. Puasa sama sekali tidak mempengaruhi permainannya di lapangan. “Tenaga saya sangat kuat, bahkan meledak. Ketika waktu berbuka tiba, air minum terasa sangat nikmat,” katanya.

Jika sebagian olahragawan Muslim menganggap berpuasa di bulan Ramadhan sebagai ganjalan, Olajuwon malah menganggapnya berkah. Sebab, dengan datangnya bulan suci Ramadhan, umat Muslim justru sangat diistimewakan. “Karena inilah bulan penuh rahmat, ampunan, dan saatnya berdekatan dengan Tuhan,” ujarnya, “Anda bisa memperbanyak amalan di bulan ini, membaca Alquran lebih sering, dan banyak belajar.”

Hakeem Olajuwon berasal dari keluarga kelas menengah. Orangtuanya merupakan pengusaha semen. Semasa tinggal di Lagos, Olajuwon tidak pernah mendapatkan pendidikan agama dari kedua orangtuanya. Keluarganya tinggal di lingkungan yang sebagian besar warganya adalah Muslim.

Selepas menamatkan pendidikan sekolah menengah atas (SMA), Olajuwon memutuskan hijrah ke Amerika Serikat (AS) guna melanjutkan pendidikan di Universitas Houston. Saat berkuliah di Universitas Houston, ia tergabung dalam tim bola basket kampus, dan berhasil membawa perguruan tinggi ini menjuarai pertandingan antarkampus di Amerika sebanyak dua kali.

Seperti halnya saat tinggal di Lagos, ketika tinggal di Houston pun Olajuwon selalu berdekatan dengan masjid. Bahkan, ketika datang pertama kali ke negeri Paman Sam ini, suara azan dari masjid pula yang membuatnya jatuh cinta. Sejak saat itu, ia pun selalu menyempatkan datang ke berbagai seminar dan pengajian di sela waktu sibuknya. Semua itu ia lakukan untuk mempelajari Islam secara lebih mendalam.

Bagi Olajuwon, berkarier dalam bidang apa pun, harus mendedikasikan hidupnya untuk agama yang diyakini kebenarannya. Boleh jadi, karena alasan itu pula yang mendorong Olajuwon terpaksa menceraikan sang istri, Lita Spencer, yang pernah menjadi teman sekampusnya dan yang telah dikaruniai seorang puteri bernama Abisola.

Pada tahun 1995, ia menikah lagi dengan Dalia Asafi. Dari pernikahan keduanya ini, ia memiliki tiga orang puteri: Asafi, Rahma, dan Aisha. Olajuwon selalu mendidik keempat puterinya untuk menjadi Muslimah yang taat.

Meski menyandang dua status minoritas di Amerika-sebagai warga berkulit hitam dan Muslim, namun Olajuwon mengaku hidup damai dalam Islam. “Allah berfirman dalam Alquran agar kita tak saling menghinakan sesama. Islam tidak memandang warna kulit dan status. Jika saya pergi ke masjid, meski seorang pebasket yang kaya dan terkenal, tetap saja saya merasa minder kalau bertemu imam. Ia lebih baik dariku. Ini soal pengetahuan,” paparnya.

Ingin Menjadi Dai

Olajuwon mengaku gemar mendiskusikan masalah keimanan dengan rekan satu timnya, terutama penganut Kristen yang taat. Beberapa di antara mereka, menurut Olajuwon, menanggapi dengan baik saat dirinya berbicara mengenai Islam. Bahkan, obrolan di antara teman ini kerap masuk ke persoalan perbandingan keagamaan.

Suatu hari, misalnya, rekan setimnya yang beragama Kristen mengoloknya karena menolak menyantap daging babi. Olajuwon balik berkata, “Kalau kamu menaati perintah Injil, kamu seharusnya juga tidak boleh memakannya.”

Bagi Olajuwon, Islam adalah sikap istikamah. Itulah yang membuatnya tidak pernah lupa untuk menjalankan shalat lima kali setiap hari. Ia juga kerap berzikir untuk mengawali setiap gerak hidupnya. “Kamu tak akan lupa walau sedetik pun. Ada komunikasi terus-menerus, dan kamu tak akan kehilangan kesadaran ini. Apapun yang saya lakukan, saya menganggapnya sebagai shalat,” katanya.

Ia mengaku merasa beruntung hidup di Amerika. Karena di negara Adidaya tersebut, kata Olajuwon, setiap Muslim dengan segala kemudahan akses, bisa belajar Islam dari dasarnya, bukan semata mempraktikkan budaya Islam yang dibawa dari negara asal mereka.

“Di sini saya punya banyak kesempatan berinteraksi dengan Muslim dari berbagai belahan bumi. Mereka membawa ilmu baru dari budaya dan latar belakang berbeda, lalu memperkenalkannya sebagai bagian dari Islam. Tetapi, setelah saya mempelajari Alquran, ternyata tidak semua yang mereka perkenalkan itu Islami,” tukasnya.

Kesadaran untuk selalu mengingat Tuhan ini menyertainya ke arena bola basket. Islam mengajarinya untuk mengedepankan kasih sayang. Itu berarti, “Anda harus bermain sportif, jangan curang. Sebab pertanggungjawabannya kepada Tuhan,” kata Olajuwon.

Lelaki yang pernah menjadi wakil ketua Islamic Da’wah Center ini suatu ketika pernah ditanya kesediaannya menjadi seorang imam. Dan jawabannya, “Itu butuh tanggungjawab besar.” Kalau diberi pilihan, ia mungkin memilih jadi dai. “Saya sedang menjalaninya sekarang,” tambahnya.

Red: Budi Raharjo
Rep: Oleh Nidia Zuraya

Oleh: junior87 | Juli 5, 2010

Tuhan Dekat Dengan Aku

src=”http://ebusjunior.files.wordpress.com/2010/07/sube-croplbng.jpg?w=107″ alt=”" title=”sube croplbng” width=”107″ height=”150″ class=”alignnone size-thumbnail wp-image-169″ />
Sepak bola mungkin sudah menjadi bagian dari hidupku, Mungkin ada suatu penyesalan karena keluargaku mengenalkan aku dengan olahraga yang paling di gemari di Indonesia bahkan di dunia. Karena tak jarang aku harus meninggalkan suatu kewajibanku menjadi seorang muslim yang harus menjalankan ibadah sholat. Karena dengan menonton sepak bola aku harus sudah ada di stadion sebelum sholat ashar dan ber jam-jam didalam stadion setelah itu sesampai di rumah sehabis sholat magrib.

Tapi itu semua tidak bisa saya pungkiri, tapi aku harus bisa menjalankan kedua-duanya karena disamping aku mencintai sepak bola aku harus mengutamakan kecintaanku kepada ALLAH sebagai muslim.

Memang aku bukan terlahir dari keluarga yang benar-benar taat pada agama, keluargaku memberi kebebasan kepada aku untuk beraktivitas bahkan merekapun selalu mendukung tetapi dalam hal yang positif, tapi keluargaku tak jarang untuk mengingatkan aku dan selalu mengharuskan aku untuk mendahulukan beribadah terutama sholat.

Tapi aku menyiasati itu semua dengan melaksanakan kedua-duanya, ketika sudah distadion aku sempatkan untuk mencari tempat untuk mengerjakan ibadah sholat, mungkin hanya ALLAH yang akan menilai semua ibadah yang aku kerjakan, entah itu bisa diterimanya atau tidak.

Bermain sepak bola sendiripun aku harus berangkat sesudah sholat ashar dan kembali sebelum magrib, ketika keenakan main dan waktu sudah dekat magrib kakakku pun menghampiri aku dengan membawa sebuah kayu yang dibawahnya dari rumah, mungkin ada rasa malu terhadap teman-temanku bermain bola. Tapi aku sangat beruntung masih punya keluarga yang selalu mengingatkan aku untuk urusan dengan tuhan.

Selepas sekolah aku ingin mencicipi kehidupan Jakarta, disanalah aku mendapatkan cita-citaku menjadi pesepak bola professional, meskipun tingkatnya hanya TARKAM (Antar Kampung). Diawali bermain dengan anak kampung, ada seorang pelatih SSB RAGUNAN yang mengajak aku untuk bergabung, di sana ada kompetisa reguler antar SSB se DKI.

Aku pun mulai mengikuti latihan bahkan aku bisa ikut didalam kompetisi itu. Di Kampung Kebagusan Jakarta waktu itu mengadakan kompetisi, seingatku dekat dengan kediaman Ibu Megawati. Aku pun tidak mau kebiasaanku yang dulu meninggalkan ibadah akan terulang lagi, karena pertandingan digelar setelah ashar, aku pun harus meminta ijin dulu sebelum bertanding karena waktu itu aku masih menjadi cadangan, yang biasanya dimainkan di babak kedua.

Mungkin club ku waktu itu tidak masuk nominasi juara, tapi pada kenyataanya club ku jadi finalis turnamen itu, Peran serta ku sebagai pemain pengganti pun sangat berpengaruh dalam kemenangan hingga menjadi finalis. Aku sedikit tidak percaya dengan club ku bahkan dengan penampilanku hingga aku menjadi pemain inti, aku pun berkata dalam hati inikah doa yang selama ini aku minta dalam shalatku “ALLAH itu dekat dengan ku”.

Berbagai cara dilakukan oleh club ku untuk menjadi yang terbaik dalam turnamen itu, mereka rela mengajak para pemain kepada kepada orang yang tak jelas aku ketahui siapa orang itu. Semua pemain disuruh mandi air kembang, tapi aku tidak mengikuti apa yang disuruh oleh pelatihku kepada semua pemainnya. Karena selama ini aku tidak pernah mengenal ritual itu semua dan saya menganggap itu syirik tak tahu juga apa yang dirasakan teman-temanku.

Keesokan hari ketika final dimulai aku harus mempersiapkan lebih awal karena aku sudah menjadi pemain inti, Tapi seperti kebiasaanku sebelumnya aku harus menunaikan ibadah shalat sebelum bertanding. Aku bersama temanku meminta ijin shalat bahkan pelatihpun rela mencari gantiku untuk menjadi pemain inti.

Entah apa yang menjadi perasaanku harus kagum dengan keinndahan sebuah kuba masjid yang biasa aku pakai shalat itu, aku memandanginya seakan keindahan islam di dalamnya aku pun sempat mengatakan kepada temanku “kuba masjid ini sangat indah yo,,,” dengan sedikit logat jawaku.

Ketika selesai aku pun bergegas ke lapangan dan segera dimainkan oleh pelatihku. Aku melihat betapa luar biasanya penonton saat final itu berlangsung, baru dalam hitungan menit aku sudah menerima umpan lambung dari temanku, aku melompat dan sialnya badanku terlalu kecil untuk bertubrukan dengan pemain belakang lawanku yang badannya lebih kekar. Akupun terpelanting ketanah dengan benturan keras kepalaku yang membentur ke tanah hingga aku tak sadarkan diri.

Seketika gemuruh sorak sorai penonton hilang dari pendengaranku yang ada hanyalah bacaan alquran dari masyaallah, allah, astaqfirullah bahkan sampai terdengar kata-kata innalillahi wainnailaihi raajiun. Mataku tidak bisa melihat tapi telingaku bisa mendengar jelas suara bacaan alquran itu.

Tapi aku bisa merasakan kedekatan tuhanku, terliha jelas kuba yang bertuliskan ALLAH yang baru aku lihat dimasjid itu, dan ucapku dalam hati “Ya ALLAH, untung aku tadi sudah shalat”, dengan tak sadarkan diri aku dibawah ke rumah sakit terdekat mungkin ALLAH juga mengikuti dan mengantarkan aku serta menunggui aku hingga aku siuman setelah 4 jam aku tak sadarkan diri sampai selesai operasi.

Ini akan menjadi pengalamanku yang sangat luar biasa dan akan mengingatkanku untuk dekat dengannya, karena aku yakin “tuhan dekat dengan aku”. Zubeir_jr

Oleh: junior87 | Juni 10, 2010

Yang Tersisa dari Piala Dunia

Tidak terasa dalam hitungan hari, empat tahun lamanya para pecinta bola akan disuguhkan oleh meriahnya gelaran akbar sepak bola piala dunia yang digelar di afrika selatan. Tak terasa juga jamaah itu berjalan hingga gelaran akbar sepak bola yang akan dimainkan.

Pada awalnya sebuah kampung yang bermayoritas hampir 99 persen menganut agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW ini mempunyai kegiatan rutinitas membacakan surat yasin dan tahlil atau yang biasa disebut tahlillan dari rumah musala dan masjid yang secara bergiliran menjadi pemandangan yang sangat luar biasa karena terlihat betapa kerukunan dan kekeluargaan yang tejalin di dalam kehidupan bermasyarakat.

Tapi karena perubahan jaman dan kurangnya antusias dari generasi penerus kegiatan itu hilang secara berlahan bahkan bertahun tahun tidak berjalan dari rumah ke rumah, mungkin kegiatan hanya ada di pusat masjid yang terbesar di kampung itu dan itupun hanya para bapak ataupun mbah-mbah para remaja di kampung itu.

Bermula dari obrolan ringan dari lima pemuda asli kampung itu, mereka bukan dari seseorang ahli ibadah yang taat. Bahkan mereka berlima pernah berbuat yang seharusnya dijauhi dan dilarang oleh agama, dan dari kelima pemuda itu berlainan macem perilaku buruknya seperti mencuri, main perempuan, berjudi, madat, atau orang jawa yang lebih mengenal dengan sebutan “MOLIMO” bahkan tak jarang badan mereka dihiasi dengan seni tato. tetapi seburuk apapun mereka menganggap itu masa lalu, mereka merasa bersalah dan akan merubahnya.

Kelima pemuda itu ingin mewujudkan kembalinya suasana yang pernah mereka lihat dari bapak-bapaknya dahulu, ingin berdirinya sebuah “jamaah tahlil” di kampung itu. Dengan adanya tontonan sepakbola yang dalam suasana ketegangan dengan sedikit sruputan kopi yang sudah tidak begitu panas karena cuaca malam kota malang yang terkenal dingin muncullah kesanggupan dari kelima pemuda untuk menjadi pelopor.

Timbullah pertanyaan dari salah satu pemuda itu, “bagaimana dan siapa yang menjadi imam dalam kegiatan ini”. Mereka menyadari karena dari kelima pemuda itu tidak mempunyai dasar agama yang baik, akhirnya merekapun mengajak seorang yang sebayanya dan dianggap mempunyai pengetahuan agama yang lebih baik dengan mengajak serta beberapa saudaranya.

Dimulailah sebuah kegiatan agama yang melantunkan ayat ayat alquran yang ditujukan kepada nabi yang membawa agama islam di bumi ini dan tak luput mereka menitipkan untuk para leluhur bahkan saudara dan keluarga mereka yang lebih dulu dipanggil oleh sang khaliq ALLAH SWT.

Dari sembilan orang yang mengawalinya ada cucuran airmata menetes dari beberapa pemuda itu, karena apa yang mereka inginkan dapat terlaksana bahkan mereka memimpikan kegiatan itu bisa berkembang dan besar apa yang mereka harapkan di kampung itu. Mungkin mereka dibuang dan dianggap hina dari orang yang menganggap dirinya lebih baik bahkan lebih suci dari yang lain, tetapi niat pemuda ini sangat mulia dan tulus. Mudah-mudahan niat tulus mereka diridhoi oleh yang maha kuasa, karena siapa yang peduli dengan mereka? Masih adakah orang-orang yang bisa menuntun mereka?.

Sedikit berat mereka meninggalkan kebiasaan buruknya serta mereka menanggalkan semua perilaku buruknya dengan selalu berbuat baik dan dengan tekad yang tulus kegiatan itu berjalan, berkembang menjadi lebih besar. Jamaah itupun berjalan sampai akan digelarnya piala dunia bulan juni 2010 ini, mudah-mudahan jamaah ini menjadi berkah dan bisa terwujud sampai keturunan mereka.

Oleh: junior87 | April 28, 2010

Jadilah Kitab Walau Tanpa Judul

KH Hilmi Aminuddin

Kun kitaaban mufiidan bila ‘unwaanan, wa laa takun ‘unwaanan bila kitaaban. Jadilah kitab yang bermanfaat walaupun tanpa judul. Namun, jangan menjadi judul tanpa kitab.

Pepatah dalam bahasa Arab itu menyiratkan makna yang dalam, terutama menyangkut kondisi bangsa saat ini yang sarat konflik perebutan kekuasaan dan pengabaian amanah oleh pemimpin-pemimpin yang tidak menebar manfaat dengan jabatan dan otoritas yang dimilikinya. Bangsa ini telah kehilangan ruuhul jundiyah, yakni jiwa ksatria. Jundiyah adalah karakter keprajuritan yang di dalamnya terkandung jiwa ksatria sebagaimana diwariskan pejuang dan ulama bangsa ini saat perjuangan kemerdekaan.

Semangat perjuangan (hamasah jundiyah) adalah semangat untuk berperan dan bukan semangat untuk mengejar jabatan, posisi, dan gelar-gelar duniawi lainnya (hamasah manshabiyah). Saat ini, jiwa ksatria itu makin menghilang. Sebaliknya, muncul jiwa-jiwa kerdil dan pengecut yang menginginkan otoritas, kekuasaan, dan jabatan, tetapi tidak mau bertanggung jawab, apalagi berkurban. Yang terjadi adalah perebutan jabatan, baik di partai politik, ormas, maupun pemerintahan. Orang berlomba-lomba mengikuti persaingan untuk mendapatkan jabatan, bahkan dengan menghalalkan segala cara. Akibatnya, di negeri ini banyak orang memiliki “judul”, baik judul akademis, judul keagamaan, judul kemiliteran, maupun judul birokratis, yang tanpa makna. Ada judulnya, tetapi tanpa substansi, tanpa isi, dan tanpa roh.

Padahal, ada kisah-kisah indah dan heroik berbagai bangsa di dunia. Misalnya, dalam Sirah Shahabah, disebutkan bahwa Said bin Zaid pernah menolak amanah menjadi gubernur di Himsh (Syria). Hal ini membuat Umar bin Khattab RA mencengkeram leher gamisnya seraya menghardiknya, “Celaka kau, Said! Kau berikan beban yang berat di pundakku dan kau menolak membantuku.” Baru kemudian, dengan berat hati, Said bin Zaid mau menjadi gubernur.

Ada lagi kisah lain, yaitu Umar bin Khattab memberhentikan Khalid bin Walid pada saat memimpin perang. Hal ini dilakukan untuk menghentikan pengultusan kepada sosok panglima yang selalu berhasil memenangkan pertempuran ini. Khalid menerimanya dengan ikhlas. Dengan singkat, ia berujar, “Aku berperang karena Allah dan bukan karena Umar atau jabatanku sebagai panglima.” Ia pun tetap berperang sebagai seorang prajurit biasa. Khalid dicopot “judul”-nya sebagai panglima perang. Namun, ia tetap membuat “kitab” dan membantu menorehkan kemenangan.

Ibrah yang bisa dipetik dari kisah-kisah tersebut adalah janganlah menjadi judul tanpa kitab; memiliki pangkat, tetapi tidak menuai manfaat. Maka, ruuhul jundiyah atau jiwa ksatria yang penuh pengorbanan harus dihadirkan kembali di tengah bangsa ini sehingga tidak timbul hubbul manaashib, yaitu cinta kepada kepangkatan, jabatan-jabatan, bahkan munafasah ‘alal manashib, berlomba-lomba untuk meraih jabatan-jabatan. Semoga.

HIKMAH REPUBLIKA www.republika.co.id

Oleh: junior87 | April 18, 2010

JOGOEN OMONGAN MU ,,,!!! BENDOL!!!

Bendol Ragukan Kemenangan atas Persiwa

MALANG-Kubu Arema Indonesia merasa geram dengan pemberitaan media nasional terbitan ibu kota yang menyatakan kemenangan Arema Indonesia atas Persiwa Wamena 2-0 (0-0) di Stadion Pendidikan, Wamena, Minggu (11/4) lalu, sebagai suatu keanehan. Padahal kemenangan yang diraih Singo Edan merupakan hasil kerja keras dan semangat seluruh tim. Jauh-jauh hari sebelum berangkat ke Wamena, seluruh tim Arema Indonesia telah memiliki tekad memenangkan pertandingan krusial itu.
Kegeraman ini terjadi saat berada di dalam pesawat Sriwijaya Air yang membawa pulang rombongan dari Makassar menuju Bandara Juanda Surabaya, kemarin pagi. Di dalam pesawat, pramugari membagikan salah satu harian nasional terbitan ibu kota kepada penumpang. Termasuk, pemain Arema Indonesia.
Dalam berita di surat kabar tersebut, pelatih timnas Benny Dollo meragukan kemenangan Arema atas tim berjuluk Badai Pegunungan itu.‘’Bagaimana mungkin mereka (Arema,red) bisa menang lawan Persiwa di Wamena sementara tim-tim lain tak ada bisa menang di sana?,’’ tanya Benny Dollo dalam berita tersebut.Sehari sebelumnya, salah satu media ibu kota juga memasang judul besar ‘’Keanehan Arema menang di Wamena’’.Membaca berita tersebut, para punggawa Singo Edan merasa kecewa berat. Hasil kerja keras selama mereka selama di Wamena, seolah-olah pemberian kemenangan.
Pelatih Arema Indonesia Robert Alberts pun bereaksi. Pelatih asal Belanda ini langsung mengumpulkan pemainnya dan memberikan breafing kepada pemainnya.Kepada wartawan yang mengikuti tur selama ke Papua, Robert sangat menyayangkan komentar yang dianggapnya tidak professional itu. ‘’Kita sudah professional, menyayangkan statemen yang tidak professional itu,’’ kata Robert.
Kemenangan di Wamena menurutnya telah dipersiapkan jauh-jauh hari. Diantaranya melakukan training Center (TC) di Batu selama tiga hari. Ini dilakukan untuk mengantisipasi udara dingin di kawasan Wamena. Pasalnya, kondisi iklim di Kota Batu tidak jauh beda dengan di Wamena.
Begitupula dengan faktor fisik dengan melakukan perjalanan cukup jauh dari Malang ke Wamena, sudah dirancang dengan baik. Fisik pemain benar-benar dijaga selama menempuh perjalanan cukup jauh. Salah satunya, singgah di Makassar, Sulawesi Selatan.‘’Kita professional. Ketika Arema kalah dari Persib dan Sriwijaya FC pun statemen kita juga professional,’’ katanya.
Tidak hanya itu saja, tim tuan rumah pun mengakui jika Arema layak memenangkan pertandingan karena tampil bagus. Melalui Pelatih Persiwa Zaenal Abidin mengaku jika Arema bisa memecahkan rekor di Wamena. Gol yang tercipta ke gawangnya karena serangan baik. Timnya kalah hanya kurang beruntung saja karena serangan yang mereka bangun gagal mencitakan gol. Begitupula dengan suporter tuan rumah, juga memberikan sambutan baik atas kemenangan Arema yang berhasil memecahkan rekor mereka tak terkalahkan di kandang.
Sementara itu Media Officer Arema Indonesia Sudarmaji menyatakan jika mengeluarkan statemen harus ada buktinya obyektif. ‘’Jangan mengeluarkan statemen yang tidak ada bukti. Lihat rekaman pertandingan tersebut,’’ katanya. (jon/nug)

Oleh: junior87 | Januari 14, 2010

KOMUNITAS ITU BERNAMA “AREMA SOLO GRAPHIC”

ASG, arek-arek malang yang ada dikota solo itu menyebutnya untuk lebih gampangnya. Kata-kata dan tulisan ASG sudah tidak asing ditelinga arek-arek yang mengadu nasib untuk mendapatkan rizki di kota solo khususnya mantan jebolan sebuah sekolah kejuruhan yang ada dimalang yang lebih ngetren dengan sebutan “STM GRAFIKA” yang kini menjadi “SMKN 4 MALANG” dan yang telah banyak mereka jumpai kata-kata ASG itu dan mereka lihat lewat dunia maya, nawak-nawak biasa menyebutnya dengan MESBUK menyalin dari kata-kata FACEBOOK.

Berawal dari sebuah pembicaraan ringan disebuah kost-kost an di kota solo yang mempunyai harapan ingin sekali membuat kumpul-kumpul nawak sawal dan temu kangen dengan sesama aremania yang kebanyakan arek-arek grafika yang sudah kenal atau beda angkatan yang ada disolo karena banyaknya lapangan pekerjaan di solo khususnya bagi keahlian mereka dibidang cetak mencetak.

Dengan permulaan mencoba-coba bikin kaos aremania solo dengan ditawarkan secara dari mulut kemulut “gepuk tular” untuk mengetahui berapa banyak nawak-nawak kita yang ada di solo, tetapi dari 75 potong kaos yang dipesan itu hampir 95 % arema lulusan grafika, 3 % arema diluar lulusan grafika dan 2 % cah solo yang senang dengan arema.Kami masih belum menyebutnya AREMANIA karena mereka belum 100 % cinta sepak bola, tapi yang pasti mereka adalah AREK MALANG.

Berlanjut dari pembicaraan sehari-hari dari segelintir orang, kami mengadakan HALAL BIHALAL yang diadakan di kediaman mertua salah satu teman kita yang akrab dipanggil ONOT RAMUS yang sudah bertahun tahun bahkan menikah dan sudah mempunyai momongan selama disolo. Bertepatan sehabis idul fitri tepatnya pada hari minggu 21 Oktober 2007 dan kebetulan juga berbarengan dengan kemenangan team AREMA yang pada malam harinya bertandang di manahan solo saat menghadapi team PERSIS.
Pada hari itulah terbentuk sebuah susunan kepanitiaan yang di ketuai oleh cak laser alumni stm grafika dan dibentuk koordinator koordinatornya. Dengan seiring berjalanya pertemuan kita memiliki logo arema solo graphic itu
logoku

Pada awalnya dibentuknya ASG ini kita mempunyai sedikit program :
1. pertemuan gaya khas malangan “nyantai” 2 bulan sekali untuk untuk mengurangi kangen kita dengan saudara, teman, bahkan keluarga yang ada dimalang
2. kita adakan iuran walaupun jumlahnya gak banyak yang kita kumpulkan guna membantu nawak kita yang dirawat di rumah sakit, ataupun sekedar membesuk nawak kita yang sakit dirumah dengan membawa sedikit oleh-oleh mengambil dana dari iuran bulanan itu

Tp kita tidak menuntut kemungkinan keikutsertaan anggota kita dari luar alumni grafika, bahkan kita mengharapkan kepada aremania yang ada disolo untuk bisa bergabung dengan dipelopori oleh arek-arek grafika ini, yang pasti kita hanya menjembatani dan syukur-syukur sudah ada komunitas aremania di solo ini yang sudah berdiri dari dulu kami pun akan ikut bergabung, mungkin tujuan kita sama KEBERSAMAAN.

Tiap 2 bulan pertemuan itu kita jalani dengan sedikit meluangkan waktu kita, tapi kita juga tetap mengutamakan bagi nawak kita untuk tetap bekerja hingga sampai terlaksanakannya acara yang baru-baru ini kita selenggarakan seperti:
-mudik bersama naik sepeda motor
DSC00783 DSC00784

-halal bihalal
100_2918 100_2964 100_2970

-nonton bareng AREMA VS PERSIJA + rujak an
PHOT0123 PHOT0117

-nonton bareng persebaya VS AREMA layar lebar

mungkin anggota kita gak ada apa-apanya dibanding komunitas yang ada di perantauan lainnya, tp kami bisa merasakan kebersamaan itu dan bangga menjadi bagian warga solo yang tetap beraromakan rasa AREMANIA nya, saya juga teringat sepotong lagu aremania “dimanapun berada kami selalu ada, karena kami aremania”

Oleh: junior87 | Desember 27, 2009

Eric ‘Bilal’ Abidal Meyakini Islam Sepenuh Hati

Sejak masuk Islam, Abidal berusaha menjadi Muslim yang taat.


Kariernya di lapangan hijau kian moncer. Penggemar La Liga Spanyol pasti mengenal sosok Eric Abidal. Ia dikenal sebagai bek andal yang memperkuat FC Barcelona dan Timnas Prancis. Mei lalu, Abidal sempat menjadi pusat pemberitaan, ketika klub sepak bola terkemuka asal Italia, Juventus, berniat memboyongnya dari Barcelona.

Tak tanggung-tanggung, Si Nyonya Tua–julukan Juventus–siap mendatangkan Abidal ke Turin dari Barcelona dengan bonus striker David Trezequet. Namun, tawaran menggiurkan itu ditolak Barca. Abidal yang dikenal sebagai bek kiri, yang memiliki keunggulan dari aspek kekuatan fisik serta teknik, memutuskan tetap bermain di Barca hingga Juni 2012 mendatang.

Ia memperpanjang kontrak dengan Barca yang semula berakhir pada 2011. ”Buyout clause bagi Abidal adalah 90 juta euro,” demikian keterangan yang disampaikan Barcelona melalui situs resminya.

Abidal adalah salah satu pesepak bola dunia yang beragama Islam. Sejatinya, dia adalah seorang mualaf. Sang bintang memeluk agama Islam baru enam tahun terakhir. Terlahir di Lyon, Prancis, pada 11 September 1979, Abidal berasal dari keluarga imigran asal Afrika. Sebelumnya, Abidal merupakan seorang pemeluk agama Katolik.

Pertemuan dengan wanita yang kini menjadi istrinya telah mengantarkannya pada agama Allah SWT. Setelah menikah dengan Hayet Abidal, seorang perempuan asal Aljazair, Abidal memeluk agama Islam. Setelah mengucap dua kalimah syahadat, ia berganti nama menjadi Eric Bilal Abidal.

Kepada majalah Match yang terbit di Paris, Abidal mengatakan, agama Islam telah mendorongnya untuk bekerja keras untuk memperkuat timnya. ”Saya memeluk Islam dengan keyakinan penuh,” ujar ayah dua anak itu. Sejak masuk Islam, Abidal berusaha menjadi Muslim yang taat.

Ia tak pernah melupakan shalat. Terlebih lagi, di markas FC Barcelona, Camp Nou, masih ada dua pemain lainnya yang beragama Islam, yakni Seydou Keita dan Yaya Toure. Ketatnya jadwal pertandingan yang harus dilakoni, membuat Abidal sedikit terkendala saat menjalankan ibadah puasa secara penuh pada bulan Ramadhan.

Ramadhan lalu, Abidal memutuskan tak berpuasa ketika membela Barca. Menurutnya, hal itu terpaksa dilakukan, sebagai komitmen terhadap profesionalitasnya sebagai pemain. Hal serupa sebenarnya juga dilakukan dua rekannya di El Barca, Seydou Keita dan Yaya Toure. Meski begitu, ketiganya mengganti puasa di lain hari, setelah Ramadhan berakhir.

Abidal memulai karier profesionalnya bersama klub sepak bola Prancis, AS Monaco, pada 16 September 2000. Ia sempat 22 kali menyandang ban kapten bersama Monaco. Setelah itu, dia pindah ke Lille OSC. Di klub inilah, dia bereuni dengan mantan pelatihnya, Claude Puel, dan 62 kali membela Lille.

Di akhir 2004, dia kembali ke kota kelahirannya dan bergabung dengan Lyonnais. Ia berhasil mengantarkan timnya meraih dua gelar di Ligue 1 berturut-turut selama dua musim. Selama kariernya di Prancis, dia dikenal sebagai salah satu bek terbaik di Ligue 1. Di Lyon, dia bermain bersama kiper Gregory Coupet, Francois Clerc, dan Anthony Reveillere serta dua pemain Brasil, Cris dan Cacapa.

Pada 30 Juni 2007, Abidal hengkang ke Barcelona dengan nilai transfer 15 juta euro. Di Camp Nou dia memakai nomor punggung 22. Sejak itu, Abidal menjadi pemain pilar Barca. Nilai kontrak Abidal mencapai 90 juta euro dengan klausal pelepasannya, dan Lyon akan menuai bonus sebesar 500 ribu euro jika Barca meraih gelar Liga Champions untuk empat tahun ke depan. Dan, itu terjadi setelah Barca berhasil mengalahkan Manchester United di Roma.

Motivasi Sang Istri

Istri adalah motivator utama bagi suami. Hal itu sangat dirasakan betul oleh bek kiri tim nasional Prancis dan FC Barcelona, Eric Abidal. Kesuksesannya merumput di lapangan hijau tak lepas dari peran sang istri. Motivasi dan dukungan penuh yang dipompa sang istri, Hayet Abidal, telah membuat peformanya saat memainkan si kulit bundar bertambah maksimal.

”Bagiku, dia (Hayet) adalah sebuah permata. Dia juga pemegang kemudi yang sangat menakjubkan. Saya beruntung mendapat perempuan seperti dia, yang sanggup memberikan arahan dan pendapat yang logis sebelum aku memutuskan hal krusial, termasuk dalam memilih karier,” ungkap Abidal seperti ditulis France Football.

Abidal mengakui, kepindahannya ke Barcelona tak terjadi begitu saja. Saran ‘magis’ sang istrilah yang mampu menggerakkan hatinya untuk mencoba peruntungan di negeri Matador. Betapa tidak, tanpa harus pindah ke Barcelona pun, Abidal telah memiliki segalanya di Prancis. Tetapi, di mata sang istri, semua itu belum sempurna. Satu-satunya cara, menurut sang istri, Abidal harus berkarier di klub luar negeri.

Hayet mendorongnya untuk bergabung bersama Barcelona. ”Aku ingin suamiku tak hanya terpaku bermain di klub sepak bola Prancis. Penting bagi kami untuk menyiapkan masa depan, terutama setelah ia pensiun nanti. Jadi, berkenalan dengan banyak orang di mancanegara memberi banyak keuntungan. Nantinya, kami bisa menjalin relasi bisnis ataupun kerja sama apa yang saling menguntungkan,” ujar Hayet, yang memang terkenal memiliki insting bisnis tinggi itu.

Besarnya peran Hayet dalam kehidupan pribadi Abidal sudah dibuktikan sejak mereka menikah. Usai menikah, Abidal memilih memeluk Islam setelah mendapat bimbingan intensif dari sang istri yang asli Aljazair. ”Semua berlangsung alami. Pilihan memeluk agama Islam bukan karena faktor istriku, tapi sebuah hadiah yang tiba-tiba saja muncul. Itu benar-benar terjadi apa adanya. Mengalir begitu saja dan membuatku merasa bahagia,” ungkap Abidal.

Meski dikenal sebagai seorang Muslim yang taat, Hayet juga sangat dekat dengan dunia entertainment. Bedanya, dia sangat pandai membagi peran dan penampilan. Ia tahu saat harus mengenakan busana sopan dan kapan harus mengenakan gaun indah. ”Saya seperti istri pesepak bola lain. Bedanya, saya tak suka berfoya-foya atau larut di dunia malam. Lebih indah jalan-jalan bareng Abidal dan belanja bersama,” tutur Hayet.

Pertemuan Abidal dengan sang istri terjadi ketika ia masih remaja. Kedua sejoli ini kemudian memutuskan untuk menikah pada Juli 2003 silam. Dari pernikahan tersebut, keduanya dikaruniai dua orang putri, yakni Meliana yang lahir pada 2004 dan Canelia lahir tahun 2006. nidia zuraya ed: Heri Ruslan

Oleh: junior87 | November 20, 2009

Sukses Memalukan


PARIS–Striker timnas Prancis, Thierry Henry akhirnya mengakui bila ia memang sengaja menyentuh bola yang kemudian mengarah kepada William Gallas saat Prancis menghadapi Irlandia di pertandingan kedua play-off Piala Dunia 2010, di Stade de France Kamis (19/11) dinihari, WIB.

Aksi Henry yang melanggar fair play memang membuahkan gol karena sundulan Gallas berhasil menyamakan kedudukan menjadi 1-1.

Gol yang tercipta di perpanjangan waktu itu sudah cukup bagi Prancis untuk mengambil tiket ke Afrika Selatan. Pasalnya, mereka unggul agregat 2-1 karena pada leg pertama menang 1-0 melalui gol Nicolas Anelka.

Meski mengakui telah menyentuh bola, namun Henry menolak disalahkan. Menurut striker Barcelona ini, wasit yang harus dipertanyakan karena membiarkan insiden tersebut.

“Jujur, itu memang handball. Tapi, saya bukan wasit. Saya tetap akan melanjutkan permainan karena wasit membiarkannya. Pertanyaan seharusnya ditujukan pada dia,” jawab Henry.

Sementara itu, pelatih Raymond Donenech mengungkapkan kekecewaannya terhadap suporter dan tim Irlandia yang tidak bisa menerima kekalahan tersebut. Dia juga tegaskan tidak melihat insiden tersebut.

“Saya tidak melihat ada tangan yang menyentuh bola. Anda [media] yang lebih banyak membicarakan setelah menyaksikannya dari jarak 80 yard. Wasit mengesahkan gol itu, tapi saya tidak melihat apa yang terjadi. Saya juga tidak melihat tayangan ulang,” papar Domenech.

“Meski demikian, saya kecewa dengan sikap tim Irlandia dan suporter mereka. Saya turut menyesal bila Irlandia tidak lolos kualifikasi,” lanjutnya. goal.com/itz

Tulisan Sebelumnya »

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.